Ceritax prewed
zoobi doobi
Kamis, 28 Juli 2016
Senin, 29 Juli 2013
hikayat si pandai besi dan si tetangga cantik
Dalam kitab Syarh ‘Uquudil Lijain fi Huquuq az-Zawjain karya Syaikh
Nawawi Banten,diungkapkan suatu cerita tentang keteguhan wanitadalam
menjaga kehormatan dirinya. Alkisah, adaseorang lelaki pandai besi yang
kebal api. Dia seringmemasukkan tangan ke dalam api yang menyala-nyala.
Suatu saat, ia dikunjungi seorang lelaki yangpenasaran dengan
keistimewaan dirinya tersebut.Sang tamu pun menyaksikan dengan
matakepalanya sendirinya keistimewaan sang pandaibesi.Sang tamu
tergelitik untuk mengetahui, apa yangdilakukan sang pandai besi sehingga
memilikikeistimewaan kebal api tersebut. Seusai sangpandai
menyelesaikan pekerjaannya, sang tamupun mengucapkan salam seraya
berkata, “Akuingin menjadi tamumu malam ini.”“Silakan. Saya senang
sekali dan saya akanmenjamu Anda sebaik mungkin,” ujar sang pandaibesi
dengan sukacita.Kemudian sang tamu diajak pulang ke rumahtukang besi,
lantas dijamu makan sore danbermalam di sana. Ia terus mengamati
aktivitassang tukang besi. Tak ada yang aneh. Sang tukangbesi hanya
mengerjakan ibadah salat fardhu saja,lantas tidur pulas hingga
subuh.“Barangkali tukang besi itu menutup-nutupiaktivitasnya pada malam
ini,” bisik sang tamudalam hati.Karena masih penasaran, sang tamu pun
kembalimenginap satu malam. Ternyata tukang besi itumasih seperti
biasanya. Ia tidak menambahibadahnya sama sekali kecuali salat
fardhu.“Saudaraku,” ujar sang tamu pada si tukang besi,“aku telah
mendengar, engkau diberi keistimewaanoleh Allah. Aku pun melihat sendiri
keistimewaanitu. Namun, aku juga tak habis pikir. Tak kulihatamal
ibadah istimewa yang kau lakukan. Kauhanya melaksanakan salat fardhu
saja. Dari manakau memperoleh kemuliaan seperti itu ?”Akhirnya, sang
tukang besi pun mengungkapkanlatar belakang keistimewaan kebal api yang
ia miliki.Ia menuturkan, ia pernah mengalami suatuperistiwa yang aneh
dan jarang terjadi. Saat itu, iamempunyai tetangga seorang wanita
cantik. Terusterang, ia mengaku jatuh cinta pada wanita cantikitu.
Berkali-kali ia merayu tetangga wanita itu,namun tidak pernah berhasil
menaklukkan hatinya.Wanita cantik itu ternyata sangat menjagakehormatan
dirinya.Waktu terus berlalu hingga tiba musim paceklik.Orang-orang
banyak kehabisan bahan pangan.Suatu hari, sang tukang besi duduk santai
dirumah. Tiba-tiba ada seorang mengetuk pintu. Iapun beranjak untuk
membuka pintu. Ternyatawanita cantik itu berdiri di depan pintu.“Pak,
mohon maaf,” kata wanita itu. “Aku sangatlapar. Apakah Bapak sudi
memberiku makanandengan ikhlas karena Allah ?”“Aku tidak bisa memberimu
makanan kecuali jikaengkau mau menyerahkan dirimu padaku.Tidakkah kau
tahu, bagaimana perasaan dalamhatiku? Apakah kau tidak tahu jika aku
sangatmencintaimu ?”“Aku memilih mati daripada durhaka kepada
Allah,”jawab sang wanita dengan tegas lantas pulang kerumahnya.Setelah
dua hari, wanita itu kembali mendatangirumah sang tukang besi untuk
meminta bantuanyang serupa. Tukang besi itu pun menjawabseperti jawaban
sebelumnya. Wanita itu tetapbersikukuh tidak akan
menyerahkankehormatannya meski ia diterjang kelaparan.Akhirnya, wanita
itu pulang ke rumahnya dengantangan hampa.Waktu terus berjalan. Rasa
lapar yang amatdahsyat terus menggerogoti kondisi tubuh wanitacantik
itu, hingga ia nyaris meregang ajal.Akhirnya, dengan memanfaatkan sisa
tenaga yangada, ia pun kembali mendatangi rumah sangtukang besi. Ia
meminta bantuan seperti hari-harisebelumnya.Mengetahui sang wanita
semakin terdesak olehrasa lapar, si tukang besi kembali
memanfaatkankesempatan. Saat si tukang menyerahkanmakanan,
sekonyong-konyong air mata sangwanita mengucur deras.“Wahai saudaraku,”
ucap sang wanita dengan lirih,“apakah kau memberiku makanan ini
benar-benarkarena Allah?”“Aku memberikan makanan ini agar kau
bersediamenyerahkan dirimu padaku,” sahut si tukang besidengan senyum
licik.Mendengar jawaban itu, wanita cantik itu punlangsung bangkit dari
tempat duduknya. Tak secuilpun ia menyentuh makanan yang disediakan
olehsi tukang besi. Ia pulang kembali ke rumahnya.Dua hari kemudian,
sang wanita kembali mengetukpintu rumah tetangganya, si tukang besi.
Lelaki itupun membukakan pintu dan melihat sang wanitaberdiri di depan
pintu. Rasa lapar telah membuatsuaranya nyaris tak terdengar.
Tubuhnyabergemetar menahan himpitan lapar.“Saudaraku,” desis sang wanita
lirih, “Aku sudahtidak kuat lagi. Aku sudah tidak bisa menemuiorang
lain selain dirimu. Apakah kau maumemberiku makanan ?”“Ya, mau. Asal kau
juga mau menyerahkan dirimupadaku,” sergah sang tukang besi.Sejurus
kemudian, wanita itu menundukkankepalanya. Lantas ia kembali pulang ke
rumahnyadengan tangan hampa.Sepulangnya wanita itu, timbul rasa sesal di
hatisang pandai besi. Ia mulai iba dengan kondisitubuh wanita yang kian
lemah. Namun ia sendirisebenarnya tak memiliki simpanan makanan. Ialalu
beranjak ke dapur guna memasak makananuntuk tetangga wanitanya itu.
Setelah matang,makanan itu ia serahkan ke sang wanita.“Sungguh tega
diriku,” gumam si tukang besidalam hati. “Ia bukanlah wanita terpelajar
danbukan pula wanita yang alim. Namun, iamenyadari untuk tidak memakan
yang bukanhaknya. Berulang kali ia datang ke rumahku karenasiksaan rasa
lapar, namun aku tetap saja takberhenti menggoda dirinya.“Ya, Allah,”
sang tukang besi lantas memanjatkandoa, “aku bertobat kepada-Mu atas
perbuatan dosayang kulakukan. Selamanya, aku tidak akanmendekati wanita
itu lagi demi tujuan nista.”Si tukang besi melongok makanan yang
iaserahkan kepada sang wanita. Namun makanan itutak jua disentuh oleh
sang wanita.“Makanlah. Tidak usah takut. Makanan ini sayaberikan karena
Allah,” tegas sang tukang besi.Setelah mendengar pengakuan itu, sang
wanitamengangkat kepalanya ke langit seraya berdoa, “YaAllah jika benar
ucapan lelaki ini, semoga Engkaumengharamkan api buat dirinya di dunia
danakhirat. ”Lelaki itu lantas pergi meninggalkan si wanita yangsedang
menyantap makanan yang ia berikan. Iabermaksud memadamkan api di dapur
rumahnya.Saat itulah, tanpa sengaja, ia menginjak bara api.Anehnya, ia
tidak merasa panas sama sekali.Kulitnya juga tak terbakar sedikit
pun.Lantas ia kembali ke rumah sang wanita danmenjumpainya dalam keadaan
cerah ceria.“ Bergembiralah, karena Allah mengabulkandoamu,” ujar sang
tukang besi.Mendengar ucapan itu, seketika si wanita langsungmelemparkan
makanan yang hendak ia suap daritangannya. Ia bersujud syukur kepada
Allah lantasberdoa, “Ya Allah, Engkau telah berkenanmemperlihatkan
kepadaku apa yang menjadimaksudku pada lelaki itu. Semoga Engkauberkenan
mencabut nyawaku saat ini. ”Sesaat kemudian, tatkala wanita cantik itu
sedangbersujud, Allah pun mencabut nyawanya.
Langganan:
Postingan (Atom)