Senin, 29 Juli 2013

hikayat si pandai besi dan si tetangga cantik

Dalam kitab Syarh ‘Uquudil Lijain fi Huquuq az-Zawjain karya Syaikh Nawawi Banten,diungkapkan suatu cerita tentang keteguhan wanitadalam menjaga kehormatan dirinya. Alkisah, adaseorang lelaki pandai besi yang kebal api. Dia seringmemasukkan tangan ke dalam api yang menyala-nyala. Suatu saat, ia dikunjungi seorang lelaki yangpenasaran dengan keistimewaan dirinya tersebut.Sang tamu pun menyaksikan dengan matakepalanya sendirinya keistimewaan sang pandaibesi.Sang tamu tergelitik untuk mengetahui, apa yangdilakukan sang pandai besi sehingga memilikikeistimewaan kebal api tersebut. Seusai sangpandai menyelesaikan pekerjaannya, sang tamupun mengucapkan salam seraya berkata, “Akuingin menjadi tamumu malam ini.”“Silakan. Saya senang sekali dan saya akanmenjamu Anda sebaik mungkin,” ujar sang pandaibesi dengan sukacita.Kemudian sang tamu diajak pulang ke rumahtukang besi, lantas dijamu makan sore danbermalam di sana. Ia terus mengamati aktivitassang tukang besi. Tak ada yang aneh. Sang tukangbesi hanya mengerjakan ibadah salat fardhu saja,lantas tidur pulas hingga subuh.“Barangkali tukang besi itu menutup-nutupiaktivitasnya pada malam ini,” bisik sang tamudalam hati.Karena masih penasaran, sang tamu pun kembalimenginap satu malam. Ternyata tukang besi itumasih seperti biasanya. Ia tidak menambahibadahnya sama sekali kecuali salat fardhu.“Saudaraku,” ujar sang tamu pada si tukang besi,“aku telah mendengar, engkau diberi keistimewaanoleh Allah. Aku pun melihat sendiri keistimewaanitu. Namun, aku juga tak habis pikir. Tak kulihatamal ibadah istimewa yang kau lakukan. Kauhanya melaksanakan salat fardhu saja. Dari manakau memperoleh kemuliaan seperti itu ?”Akhirnya, sang tukang besi pun mengungkapkanlatar belakang keistimewaan kebal api yang ia miliki.Ia menuturkan, ia pernah mengalami suatuperistiwa yang aneh dan jarang terjadi. Saat itu, iamempunyai tetangga seorang wanita cantik. Terusterang, ia mengaku jatuh cinta pada wanita cantikitu. Berkali-kali ia merayu tetangga wanita itu,namun tidak pernah berhasil menaklukkan hatinya.Wanita cantik itu ternyata sangat menjagakehormatan dirinya.Waktu terus berlalu hingga tiba musim paceklik.Orang-orang banyak kehabisan bahan pangan.Suatu hari, sang tukang besi duduk santai dirumah. Tiba-tiba ada seorang mengetuk pintu. Iapun beranjak untuk membuka pintu. Ternyatawanita cantik itu berdiri di depan pintu.“Pak, mohon maaf,” kata wanita itu. “Aku sangatlapar. Apakah Bapak sudi memberiku makanandengan ikhlas karena Allah ?”“Aku tidak bisa memberimu makanan kecuali jikaengkau mau menyerahkan dirimu padaku.Tidakkah kau tahu, bagaimana perasaan dalamhatiku? Apakah kau tidak tahu jika aku sangatmencintaimu ?”“Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah,”jawab sang wanita dengan tegas lantas pulang kerumahnya.Setelah dua hari, wanita itu kembali mendatangirumah sang tukang besi untuk meminta bantuanyang serupa. Tukang besi itu pun menjawabseperti jawaban sebelumnya. Wanita itu tetapbersikukuh tidak akan menyerahkankehormatannya meski ia diterjang kelaparan.Akhirnya, wanita itu pulang ke rumahnya dengantangan hampa.Waktu terus berjalan. Rasa lapar yang amatdahsyat terus menggerogoti kondisi tubuh wanitacantik itu, hingga ia nyaris meregang ajal.Akhirnya, dengan memanfaatkan sisa tenaga yangada, ia pun kembali mendatangi rumah sangtukang besi. Ia meminta bantuan seperti hari-harisebelumnya.Mengetahui sang wanita semakin terdesak olehrasa lapar, si tukang besi kembali memanfaatkankesempatan. Saat si tukang menyerahkanmakanan, sekonyong-konyong air mata sangwanita mengucur deras.“Wahai saudaraku,” ucap sang wanita dengan lirih,“apakah kau memberiku makanan ini benar-benarkarena Allah?”“Aku memberikan makanan ini agar kau bersediamenyerahkan dirimu padaku,” sahut si tukang besidengan senyum licik.Mendengar jawaban itu, wanita cantik itu punlangsung bangkit dari tempat duduknya. Tak secuilpun ia menyentuh makanan yang disediakan olehsi tukang besi. Ia pulang kembali ke rumahnya.Dua hari kemudian, sang wanita kembali mengetukpintu rumah tetangganya, si tukang besi. Lelaki itupun membukakan pintu dan melihat sang wanitaberdiri di depan pintu. Rasa lapar telah membuatsuaranya nyaris tak terdengar. Tubuhnyabergemetar menahan himpitan lapar.“Saudaraku,” desis sang wanita lirih, “Aku sudahtidak kuat lagi. Aku sudah tidak bisa menemuiorang lain selain dirimu. Apakah kau maumemberiku makanan ?”“Ya, mau. Asal kau juga mau menyerahkan dirimupadaku,” sergah sang tukang besi.Sejurus kemudian, wanita itu menundukkankepalanya. Lantas ia kembali pulang ke rumahnyadengan tangan hampa.Sepulangnya wanita itu, timbul rasa sesal di hatisang pandai besi. Ia mulai iba dengan kondisitubuh wanita yang kian lemah. Namun ia sendirisebenarnya tak memiliki simpanan makanan. Ialalu beranjak ke dapur guna memasak makananuntuk tetangga wanitanya itu. Setelah matang,makanan itu ia serahkan ke sang wanita.“Sungguh tega diriku,” gumam si tukang besidalam hati. “Ia bukanlah wanita terpelajar danbukan pula wanita yang alim. Namun, iamenyadari untuk tidak memakan yang bukanhaknya. Berulang kali ia datang ke rumahku karenasiksaan rasa lapar, namun aku tetap saja takberhenti menggoda dirinya.“Ya, Allah,” sang tukang besi lantas memanjatkandoa, “aku bertobat kepada-Mu atas perbuatan dosayang kulakukan. Selamanya, aku tidak akanmendekati wanita itu lagi demi tujuan nista.”Si tukang besi melongok makanan yang iaserahkan kepada sang wanita. Namun makanan itutak jua disentuh oleh sang wanita.“Makanlah. Tidak usah takut. Makanan ini sayaberikan karena Allah,” tegas sang tukang besi.Setelah mendengar pengakuan itu, sang wanitamengangkat kepalanya ke langit seraya berdoa, “YaAllah jika benar ucapan lelaki ini, semoga Engkaumengharamkan api buat dirinya di dunia danakhirat. ”Lelaki itu lantas pergi meninggalkan si wanita yangsedang menyantap makanan yang ia berikan. Iabermaksud memadamkan api di dapur rumahnya.Saat itulah, tanpa sengaja, ia menginjak bara api.Anehnya, ia tidak merasa panas sama sekali.Kulitnya juga tak terbakar sedikit pun.Lantas ia kembali ke rumah sang wanita danmenjumpainya dalam keadaan cerah ceria.“ Bergembiralah, karena Allah mengabulkandoamu,” ujar sang tukang besi.Mendengar ucapan itu, seketika si wanita langsungmelemparkan makanan yang hendak ia suap daritangannya. Ia bersujud syukur kepada Allah lantasberdoa, “Ya Allah, Engkau telah berkenanmemperlihatkan kepadaku apa yang menjadimaksudku pada lelaki itu. Semoga Engkauberkenan mencabut nyawaku saat ini. ”Sesaat kemudian, tatkala wanita cantik itu sedangbersujud, Allah pun mencabut nyawanya.